Kamis, 30 Agustus 2012
PENTINGNYA PENDIDIKAN USIA DINI
PENGANTAR
“Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan kejeniusan mereka dalam enam bulan pertama” ( Buckminster Fuller ). Poin ini menyadarkan kepada kita betapa pentingnya perhatian pada pendidikan usia dini bagi seorang anak. Dengan kata lain, semua usaha pendidikan yang diberikan kepada seorang anak mengandung konsekwensi yang menentukan. Pendidikan yang baik dan tepat akan menghasilkan pribadi yang seimbang atau utuh dalam tataran jasmani dan rohani. Sebaliknya pendidikan yang serampangan akan menghasilkan pribadi yang tidak dewasa atau tidak utuh. Dengan demikian, pendidikan usia dini adalah suatu tahap yang amat penting dalam keseluruhan perjalanan hidup seorang anak. Persoalannya adalah apa yang dimaksud dengan pendidikan usia dini ?
Pendidikan usia dini adalah usaha pembelajaran bagi seorang anak sejak anak itu lahir. Dalam hal ini, kita dapat disibukkan oleh berbagai pandangan yang menegaskan perlunya pendidikan anak sejak didalam kandungan. Namun penulis membatasi diri untuk tidak masuk dalam polemik ini. Penulis hanya ingin menyoroti usaha pendidikan usia dini sebagai suatu realitas pendidikan yang dimulai sejak seorang anak lahir dan tumbuh dalam suatu dunia yang sama sekali berbeda ketika ia berada didalam kandungan. Dengan kata lain, pendidikan usia dini adalah usaha pembelajaran bagi seorang anak begitu ia menghirup udara di dunia ini secara mandiri (dengan dan bersama organ-organ tubuhnya sendiri)
.
PENTING DAN MENDESAK
Mengapa pendidikan usia dini penting dan mendesak ? Gordon Dryden dan Dr.Jeannette Vos dalam bukunya “The Learning Revolution : To Change the Way the World Learns” menggariskan catatan tentang tahun-tahun amat penting sejak kelahiran hingga usia sepuluh. Menurut kedua pakar ini, lima puluh persen kemampuan belajar seseorang dikembangkan pada masa empat tahun pertamanya dan tiga puluh persen lainnya dikembangkan menjelang ulang tahun kedelapan. Penemuan ini luar biasa dan dapat kita gunakan untuk menegaskan betapa penting pendidikan usia dini. Realitas situasi anak pada tahun-tahun pertama pertumbuhannya menawarkan suatu ladang yang amat sangat penting dan mendesak. Penting karena pada tahun-tahun tersebut seluruh organ dan sel-sel yang ada dalam diri seorang anak berada pada posisi siap dan optimal. Mendesak karena dewasa ini tawaran pendidikan yang tidak konstruktif merambah dengan cepat dunia anak-anak. Pola pendidikan yang tidak sesuai dengan dinamika pertumbuhan anak dan atau ketidak-mengertian sebagian pendidik atau bahkan orang tua akan pentingnya masa-masa awal ini amat mencemaskan. Situasi ini masih diperparah dengan munculnya tawaran – tawaran dunia hiburan yang tidak konstruktif melalui perkembangan teknologi yang sedemikan pesat dan menyelimuti suasana pertumbuhan seorang anak. Pada tataran ini, kita sering dikagetkan oleh kenyataan akan adanya tawaran-tawaran film yang seringkali tidak mendidik karena menampilkan sekian banyak realitas kekerasan yang tidak disertai penjelasan yang memadai. Melalui pendidikan usia dini yang tepat dan benar, seorang anak diharapkan mampu menghadapi tantangan-tantangan yang semakin kompleks dalam kehidupan ini.
Tony Buzan, ahli psikologi dari Inggris menegaskan bahwa “pada saat seorang anak dilahirkan , ia sebenarnya benar-benar brilian. Hanya dalam dua tahun, daya serap bahasanya jauh lebih baik daripada seorang doktor di bidang apa pun. Dan anak tersebut telah dapat menguasainya pada usia tiga atau empat tahun. Pembuktian yang dilakukan oleh Buzan untuk menunjukkan kebenaran teori amat mengesankan. Psikolog ini menggambarkan tindakan seorang anak yang berusia tiga bulan dan dihadapkan pada selembar kertas putih. Apa yang terjadi ? anak itu diam dan pasif atau ia berusaha merobek, meremas, membunyikannya atau bahkan berusaha memasukkan kedalam mulutnya ? Dari pengalaman kita, rupanya tindakan kedua yang lebih sering dilakukan oleh seorang anak. Luar biasa… ini adalah fenomena gerakan yang jenius. Artinya masa-masa usia dini tidak pernah boleh dilalaikan dan inilah arti pentingnya dan mendesaknya pendidikan usia dini.
PERAN ORANG TUA
Sejak awal, gereja menekankan pentingnya peranan orang tua dalam pendidikan anak. Tak dapat dibayangkan proses suatu pendidikan tanpa keterlibatan orang tua. Keterlibatan orang tua TIDAK hanya disempitkan pada masa awal dan akhir dari suatu proses pendidikan yakni ketika anak mendaftar dan akan menyelesaikan pendidikannya. Dengan kata lain, orang tua hanya sibuk dengan soal financial anak dan setelah itu TIDAK MAU TAHU LAGI. Keterlibatan orang tua yang benar adalah sebagai mitra atau partner kerja dengan pihak formal sekolah. Ketika dunia pendidikan hanya dilihat sebagai suatu perusahaan yang menerima siswa dan orang tua sebagai konsumen yang membayar, saat itulah dunia pendidikan akan tenggelam didalam pola antara majikan dan buruh. Dunia pendidikan semacam ini pasti akan menghasilkan insan-insan terdidik yang hanya mengandalkan kognitif belaka. Celakanya lagi, masa-masa usia dini yang begitu kaya akan hilang begitu saja karena usaha pendidikan hanya diletakkan dibahu sekolah formal tanpa keterlibatan orang tua.
Orang tua menjadi pendidik pertama dan utama karena sejak didalam kandungan dan sampai tahun-tahun pertama kehidupannya didunia, seorang anak praktis berada dalam kesatuan dan intensitas penuh dengan orang tuanya. Kenyataan ini mendesak kita untuk menegaskan betapa seorang anak membutuhkan keterlibatan orang tua didalam proses hidupnya termasuk proses pendidikannya. Orang tua itulah guru pertama bagi seorang anak. Melalui orang tua, seorang anak mulai belajar huruf, angka, bicara, memegang, berkomunikasi bahkan menyusun kata-kata. Apakah orang tua semacam ini bukan seorang guru ?
TREND LES BAGI ANAK
Meskipun demikian, kita seringkali membaca dan melihat realitas yang bertolak belakang dengan apa yang dikemukakan diatas. Realitas dewasa ini justeru menarik anak dari keterlibatan orang tua. Anak seringkali “disingkirkan” dari orang tua dengan menggunakan alasan les dan les. Bahkan anak dititipkan pada suatu lembaga tertentu yang disebut dengan “play group”. Kenyataan ini sungguh luar biasa karena anak sejak dini sudah dicabut dari akar pertama dan utamanya yakni keluarga. Tanah yang begitu bagus dan indah diberikan kepada lembaga untuk dirawat tanpa keterlibatan orang tua. Dengan menggunakan pola klassikal yang hampir dapat dipastikan tidak menguji dan mengembangkan keahlian seorang anak berdasarkan kecerdasannya, maka ladang yang begitu kaya akan disia-siakan. Padahal saat inilah, seorang anak amat ditentukan kepribadiannya untuk masa depan.
Apa yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi kenyataan ini ? terhadap pertanyaan ini, orang harus langsung menjawab secara tegas kembalikan peran orang tua terhadap pendidikan anak.
AKHIRNYA
Akhirnya, kita harus menegaskan bahwa pendidikan usia dini amat penting dan mendesak untuk dipermaklumkan. Dalam konteks ini, orang tua perlu diajak untuk terlibat secara penuh pada proses pendidikan usia dini. Secara ringkas kita dapat menegaskan bahwa pendidikan usia dini adalah :
a. Tanggung jawab utama dan pertama bagi orang tua
b. Selanjutnya perlu dijalankan dalam kerjasama dengan pihak sekolah secara formal ketika anak memasuki usia sekolah plus keterlibatan orang tua
c. Saat yang tepat untuk mengoptimalkan kecerdasan anak
d. Proses pembelajaran seorang anak menuju pencapaian pribadi yang utuh
e. Dasar dan atau kekuatan untuk pembentukan kepribadian anak secara jasmani dan rohani.
Langganan:
Komentar (Atom)
